6 Risiko Menempati Rumah Dijual yang Tidak Disertai SHM


Keberadaan SHM dalam jual-beli rumah itu bisa dikatakan wajib perihal “hak milik atas tanah”. Bukan hanya sekadar diperlukan. Jadi, saat ada rumah dijual dengan dilengkapi SHM dan kebetulan harganya terjangkau, ambil saja. Soalnya mengurus SHM itu agak-agak repot kalau Anda tahu. Memangnya apa saja risiko rumah yang tidak disertai dengan SHM?

Desain Rumah Minimalis Sejasa

  1. Rumah Tidak Dijamin secara Hukum Undang-Undang

Berdasarkan UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) pasal 19, pemilik tanah wajib mendaftarkan ke pemerintah. Kegiatan ini sudah digalakkan oleh pemerintah sejak tahun 1997 silam melalui Peraturan Pemerintah nomor 24. Jadi, data-data tentang tanah Anda akan disahkan secara yuridis. Semua hal yang berkaitan dengan tanah Anda dilindungi hukum.

Ketika tanah Anda sudah dijamin oleh hukum perundang-undangan, saat terjadi perselisihan mudah ditangani. Pelaksanaan pendaftaran tanah meliputi 5 asas, yakni sederhana, aman, terjangkau, mutakhir, dan juga terbuka. Tidak heran kalau rumah yang dilengkapi oleh SHM itu harganya tidak terlalu melonjak. Sayang kalau tidak disertai sertifikat ini.

  1. Alot saat Terjadi Peralihan Hak Milik

Peralihan hak milik atas tanah Anda sewaktu-waktu terjadi. Hal ini terjadi ketika Anda akan menjual rumah kembali ke orang lain, saat Anda meninggal dunia, dan juga saat Anda mau memindahtangankan ke orang lain (misal saudara kandung). Khusus untuk peralihan akibat akad jual-beli rumah, mungkin Anda akan menghadapi banyak kendala yang tentu saja merugikan.

Terutama ketika rupanya pembeli rumah Anda merupakan orang yang sangat kritis dan hati-hati. Bisa-bisa saat rumah dijual kembali tanpa SHM, Anda akan dituduh yang tidak-tidak. Lalu pihak lain mengaku-ngaku pemilik tanah Anda. Apa yang Anda perbuat? Tidak ada hukum yang melindungi. Bisa-bisa rumah batal dijual. Jadi pertimbangkan hal ini juga.

  1. Harga Rumah saat Dijual akan Stagnan

Ketika rumah dijual kembali, maka statusnya sudah menjadi “bekas”. Kalau sudah lama tidak laku-laku, statusnya berubah jadi “tua”. Ada perbedaan yang signifikan ketika rumah dijual tanpa SHM dan yang dengan disertai SHM. Rumah yang tanpa SHM kalau toh berhasil dijual, harganya tidak jauh dari harga belinya. Bahkan bisa jadi lebih murah.

Kita bisa ilustrasikan dengan jual-beli motor. Soalnya hampir sama secara ketetapan harga pasarnya. Lazimnya, motor yang sudah dipakai itu akan mengalami penurunan harga. Terutama yang tidak disertai BPKB dan sertifikat lainnya. Statusnya berubah jadi “bodong” dan disejajarkan dengan motor curian. Hal tersebut sama dengan jual-beli rumah.

  1. Rumah Tidak Bisa Dijadikan Jaminan

Hampir tidak ada sebuah keluarga yang betul-betul bisa terlepas dari utang. Soalnya kebutuhan selalu ada tiap hari, sementara pemenuhannya amat terbatas. Maka tidak jarang kepala keluarga tersebut pun mendatangi bank untuk utang dengan rumah dan tanah sebagai jaminannya. Kalau tanah milik Anda tidak memiliki sertifikat apa bisa begitu?

Tentu saja tidak. Sekeras apa pun usaha Anda, ketika tanah belum memiliki SHM, maka tetap tidak bisa dijadikan jaminan. Oleh karena itu, segerakan urus SHM. Biayanya murah kok. Bahkan per tahunnya hanya diambil pajak untuk pemerintah dengan jumlah yang ratusan kali lebih kecil dari harga tanah dan rumah Anda saat dibeli.

  1. Tidak akan Dicatat sebagai Warga yang Tertib Administrasi

Minimal, dalam catatan pemerintah, Anda dianggap sebagai warga yang tertib secara administrasi. Hubungan baik ini akan terus berlanjut selama Anda terus memelihara SHM sesuai dengan ketentuan pemerintah. Pada waktu pemerintah tengah menyelenggarakan kegiatan yang menyangkut pertanahan, Anda akan dilibatkan.

Ketika rumah dijual ke pembeli lainnya, status SHM ini akan berpindah dengan mudah. Coba kalau tanah milik Anda belum tersertifikasi. Pemerintah bisa sewaktu-waktu mencurigai tanah milik Anda ketika suatu kali Anda tersandung sebuah kasus besar, katakanlah dikaitkan dengan praktik korupsi. Tanpa delik aduan, tanah bisa saja disita.

  1. Mudah Tersandung Kasus Sengketa Lahan

Kasus sengketa lahan ini sudah sering menjadi terjadi di masyarakat. Sebetulnya akar permasalahannya sangat sederhana, yakni karena tanah tidak memiliki pemilik yang sah secara hukum. Orang lain bisa saja di kemudian hari mengaku-ngaku kalau tanah yang Anda tempati itu miliknya. Apalagi kalau status Anda adalah pendatang yang rumahnya baru beli.

Sebagai pendatang, tidak akan bisa berbuat banyak. Di hadapan hukum, yang diperlukan hanyalah bukti. Orang yang sudah lama tinggal di lingkungan tersebut memiliki pendukung yang lebih banyak. Biasanya juga lebih tahu seluk-beluk tanah tersebut daripada Anda sebagai pendatang. Maka, salah satu tameng hukum adalah keberadaan SHM itu tadi.

Setelah mengetahui risiko rumah dijual tanpa SHM, apakah sekarang Anda masih menganggap remeh sertifikasi tanah ini? Ini demi masa depan Anda sebagai pemilik sah atas tanah sendiri. Kalau toh terpaksa beli rumah tanpa SHM, segera buat SHM sebelum kejadian yang tidak diharapkan datang menghantui kehidupan Anda sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>